Keutamaan Tauhid – Samudera Ilmu


Judul : Keutamaan Tauhid – Samudera Ilmu
link : Keutamaan Tauhid – Samudera Ilmu


Keutamaan Tauhid – Samudera Ilmu


Firman Allah ta’ala, “Orang-orang yang beriman dan tidak


mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang


mendapat keamaan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”


(Al-An’am: 82)



Dari Ubadah bin ash-Shamit beliau berkata,


Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa bersaksi bahwa


tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya,


bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, bahwa Isa adalah hamba dan utusan


Allah, kalimatNya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan ruh dariNya, surga


adalah haq dan neraka adalah haq, niscaya allah memasukannya kedalam surga


sesuai amal yang dia lakukan.” (HR. Bukhari no.3435 dan Muslim no.28)


Dari Itban, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa


sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang


mengucapkan La ilaha illallah yang dengannya dia mengharap Wajah Allah.” (HR.


Bukhari no.425, 1186, 5401 dan Muslim no. 263)


Dari Abu Sa’id al-Khudri dari Rasulullah


Shallallahu’alaihi wa sallam, “Musa berkata, ‘Ya Rabbi, ajarkanlah kepadaku


sesuatu yang dengannya aku mengingatMu dan berdoa kepadaMu.’ Allah menjawab,


‘Wahai Musa ucapkanlah La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Ya Rabbi, semua


hambaMu mengucapkannya.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, seandainya langit yang


tujuh dan penghuninya selain Aku dan bumi yang tujuh diletakkandisatu daun


timbangan sedangkan La ilaha illallah didaun yang lain, niscaya La ilaha


illallah lebih berat’.” (HR. Ibnu Hibban 14/102 no. 6218, Hakim no. 1/528 dan


dia menshahihkannya)


Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah


Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai Bani


Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan memikul dosa sepenuh bumi kemudian


kamu bertemu denganKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu, niscaya Aku


membalasmu dengan ampunan sepenuh bumi’.” (HR. At-Tirmidzi no. 3540 dan


dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)


Kandungan Bab:




  • 1.      Luasnya karunia Allah


  • 2.      Banyaknya pahala bertauhid disisi

    Allah.




  • 3.      Bersama banyaknya pahala tersebut,

    bertauhid juga meleburkan dosa-dosa.




  • 4.      Tafsir al-An’am ayat 82.


  • 5.      Perhatikan lima perkara yang

    terkandung dalam hadits Ubadah.




  • 6.      Jika anda menggabungkannya dengan

    hadits Itban dan apa yang sesudahnya, maka jelaslah bagi anda makna La ilaha


    illallah, dan anda akan mengetahui kekeliruan orang-orang yang tertipu (dalam


    masalah ini).




  • 7.      Peringatan tentang syarat yang

    tercantum dalam hadits Itban.




  • 8.      Keterangan tentang lebih unggulnya

    La ilaha illallah dibanding seluruh makhluk, padahal banyak orang yang


    mengucapkannya, timbangan (kebaikan)nya ringan.




  • 9.      Keterangan jelas bahwa bumi adalah

    tujuh lapis seperti halnya langit.




  • 10.  Bahwa ia memiliki penghuni.


  • 11.  Menetapkan sifat-sifat golongan

    Asy-‘ariyah.




  • 12.  Jika anda mengetahui makna hadits

    Anas, maka anda juga mengetahui makna sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam


    dalam hadits Itban, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang


    mengucapkan La ilaha illallah yang dengan itu dia mencari Wajah Allah.” Bahwa


    itu adalah meninggalkan syirik; bukn sekedar mengucapkan dengan lisan saja.




  • 13.  Merenungkan penggabungan (baca:

    kesamaan) antara Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam dan Nabi Isa


    ‘Alaihissalam yang merupakan dua orang hamba dan utusan Allah.




  • 14.  Mengetahui kekhususan Nabi Isa

    bahwa dia adalah Kalimatullah.




  • 15.  Mangetahui Isa adalah ruh dariNya.


  • 16.  Mengetahui keutamaan iman kepada

    surga dan neraka.




  • 17.  Mengetahui sabdanya, “Sesuai

    dengan amal yang dilakukannya.”




  • 18.  Mengetahui bahwa timbangan

    mempunyai dua daun timbangan.




  • 19.  Mengetahui disebutnya Wajah

    (Allah).




Dalam catatan kaki Fathul Majid berkata, Banyak orang keliru dalam memahami


hadits-hadits, “Barangsiapa mengucapkan La ilaha illallah, niscaya dia masuk


surga.” Mereka mengira bahwa sekedar mengucapkan sudah


cukup  untuk bisa selamat dari neraka dan


masuk surga, padahal tidak demikian. Siapa yang mengira demikian, maka termasuk


orang-orang yang tertipu, tidak memahami La ilaha illallah, karena tidak


merenungkannya. Karena hakikat maknanya adalah berlepas diri dari segala yang


disembah (selain Allah), dan bertekad untuk memurnikan segala ibadah hanya


kepada Allah semata, menunaikannya dalam bentuk yang di ridhai dan  dicintai Allah ‘Azza wa jalla. Barangsiapa


yang tidak menunaikan ibadah yang menjadi hakNya, atau menunaikan sebagian


ibadah lalu dia menyembah selain Allah bersamaNya dalam bentuk berdoa kepada


para wali dan orang-orang shalih, bernazar untuk mereka dan perbuatan lain


sepertinya, maka dia telah merobohkannya, klaimnya tidak bermanfaat dan tidak


berarti apapun. Seandainya mengucapkannya saja sudah cuku, niscaya apa yang


terjadi diantara Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan orang-orang


musyrikin tidak pernah terjadi, tidak akan pernah ada peperangan dan


permusuhan.


Allah ta’ala berfirman, “Maka ketahuilah


bahwa tidak ada tuhan yang haq selain Allah.” (Muhammad: 19). Dan Allah


berfirman, “Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang


bersaksi (syahadat) dengan yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).”


(Az-Zhukhruf: 87).


Siapa yang tidak memenuhinya dan tidak


melaksanakan tuntutannya, maka mengucapkannya tidak berarti baginya. Siapa yang


memberikan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka dia bisa jadi


adalah orang yang jahil terhadap maknanya atau dusta dalam klaim imannya.


Mereka itulah orang-orang yang terkecoh, “Orang-orang yang paling merugi


perbuatannya, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia


ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi:


104).


Firman Allah ta’ala, “Orang-orang


yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik),


mereka itulah yang mendapat keamaan dan mereka itu adalah orang-orang yang


mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)


Ibnu Jarir berkata, “Al-Mutsanna menyampaikan


kepadaku –dan dia menyebutkan dengan sanadnya- ar-Rabi’ bin Anas, beliau


berkata, “Iman adalah ikhlas kepada Allah semata.”


Ibnu katsir rahimahullah berkata tentang ayat


diatas, “Yakni, mereka yang mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya semata dan


tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, mereka itulah orang-orang yang aman


pada hari kiamat, yang mendapatkan petunjuk didunia dan akhirat.”


Imam Ahmad memiliki riwayat dari Abdullah


radhiyallahu’anhu, beliau berkata,


“Ketika turun ayat, ‘Orang-orang yang


beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman.’ (Al-An’am:


82). Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa


sallam, maka mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, siapa diantara kita yang tidak


pernah menzhalimi dirinya?’ Beliau menjawab, ‘Perkaranya bukan seperti yang


kalian kira, apakah kalian tidak mendengar ucapan seorang hamba shalih, ‘Wahai


anakkau, janganlah mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah


adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’ Kezhaliman yang dimaksud adalah


syirik’.”


Dari Umar diriwayatkan bahwa beliau


menafsirkan kezhaliman disini dengan dosa, sehingga makna ayat tersebut adalah,


aman dari semua azab.


Alhasan dan al-Kalbi berkata, “(Makna ayat


tersebut) adalah mereka mendapatkan rasa aman diakhirat dan mereka adalah


orang-orang yang mendapatkan petunjuk didunia.”


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Yang


membuat mereka berat adalah dugaan mereka bahwa kezhaliman wajib tidak ada


(untuk mendapatkan rasa aman) adalah kezhaliman seorang hamba kepada dirinya


(berupa kesalah dan dosa, bahwa rasa aman tidak akan ada dan hidayah tidak


diperoleh kecuali bagi orang yang tidak menzhalimi dirinya. Maka Nabi


shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka apa yang membuat mereka


mengerti bahwa syirik merupakan kezhaliman dalam kitabullah, maka rasa aman dan


petunjuk tidak akn terwujud, kecuali bagi yang tidak mencampur imannya dengan


kezhaliman (syirik) ini. Karena siapa yang tidak mencampur imannya dengan


kezhaliman (syirik) ini, maka mereka termasuk orang-orang yang meraih rasa aman


dan mendapatkan petunjuk, sebagaimana dia juga termasuk orang-orang terpilih


dalam firmanNya, “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang


Kami pilih diantara hamba-hamba Kami. Lalu diantara mereka ada yang menganiaya


diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara


mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang


demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32).


Ini tidak menutup kemungkinan salah seorang


dari mereka diazab karena dia menzhalimi dirinya dengan melakukan dosa, jika


dia tidak bertaubat, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Barangsiapa


yang mengerjakan kebaian seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat


(balasan)nya. Dan barangsiapa yng mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun,


niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8)


Abu Bakar ash-Shiddiq pernah bertanya kepada


Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dia berkata, “Ya Rasulullah, siapa yang


diantara kita yang tidak melakukan keburukan?” Maka Belaiu menjawab, ‘Wahai Abu


Bakar, bukankah kamu mengalami kelelahan? Bukankah kamu mengalami kesedihan?


Bukankah kamu terkena penyakit? Itulah balasan kepada kalian (yang dimaksud)’.”


Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan


bahwa seorang mukmin yang jika mati lalu masuk surga, maka bisa jadi dia


dibalas didunia dengan musibah-musibah karena dosa-dosanya. Siapa yang selamat


dari tiga jenis kezhaliman: Syirik (yang merupakan kezhaliman kepada Allah),


kezhaliman kepada hamba-hamba Allah, dan kezhaliman kepada diri dengan


dosa-dosa, tetapi selain syirik, maka dia meraih rasa aman yang sempurna dan


petunjuk yang sempurna pula. Siapa yang tidak selamat dari menzhalimi dirinya


sendiri, maka dia mendaptkan rasa aman dan petunjuk mutlak, artinya dia pasti


masuk surga sebagaimana Allah menjanjikan hal itu dalam ayat yang lain, Allah


telah membimbingnya kejalan yang lurus dimana akibatnya adalah kesurga, tetapi


rasa aman dan petunjuk yang diperolehnya berkurang menurut berkurangnya iman


akbat dia menzhalimi dirinya sendiri. Maksud Nabi shallallahu’alaihi wa sallam


dengan sabdany, “Ia (kezhaliman yang dimaksud) adalah syirik.”  Bukanlah bahwa siapa yang tidak melakukan


syirik akbar maka dia meraih rasa aman dan petunjuk yang sempurna, karena


hadits-hadits beliau yang berjumlah besar disamping ayat-ayat al-Qur’an


menjelaskan bahwa pelaku dosa besar berisiko terkena azab. Mereka tidak


memperoleh rasa aman dan petunjuk yang sempurna dimana dengan keduanya mereka


menjadi orang-orang yang dibimbing kejalan yang lurus, jalan orang-orang yang


diberi nikmat oleh Allah, tanpa azab yang menimpa mereka. Bahkan mereka


mempunyai dasar petunjuk kepada jalan yang lain, merek ajuga mendapatkan pokok


nikmat Allah, dan mereka pasti masuk surga.


Dan sabdanya, “Ia (kezhaliman yang dimaksud)


adalah syirik.” Jika dimaksud beliau adalah syirik akbar maka maksudnya adalah


bahwa siapa yang tidak melakukannya, maka mereka aman dari azab dunia dan


akhirat yang diancamkan kepada orang-orang musyrik. Jika yang dimaksud Beliau


adalah syirik secara umum, dikatakan bahwa kezhaliman seorang hamba terhadap


dirinya seperti kebakhilannya –karena kecintaannya kepada harta- dari


melakanakan dari sebagian kewajiban merupakan syirik ashghar (kecil), dan


kecintaannya kepada apa yang dibenci oleh Allah ta’ala sehingga mendahulukan


hawa nafsunya atas kecintaan kepada Allah, dan ini merupakan syirik ashghar,


dan yang sepertinya, maka orang inikehilangan rasa amandan petunjuk sesuai


dengan kadarnya, oleh karena itu, ulama salaf memasukkan dosa-dosa kedalam


syirik ini dengan pertimbangan ini.” (Demikian ucapan Syaikhul Islam dari Kitab


al-Iman, dengan ringkas).


Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Yaitu


ketika mereka belum mengerti apa yang dimaksud dengan kezhaliman tersebut,


mereka mengira bahwa menzhalimi diri termasuk kedalamnya, dan bahwa siapa yang


menzhalimi dirinya sendiri –apapun kezhalimannya itu- maka dia bukan orang yang


meraih keamanan dan petunjuk. Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjawab


bahwa kezhaliman yang menghanguskan rasa aman dan petunjuk secara mutlak adalah


syirik.


Inilah –demi Allah- jawaban yang menyembuhkan


orang sakit dan menghilangkan haus orang yang dahaga. Kezhaliman yang total


lagi mutlak adalah syirik, yaitu meletakkan ibadah bukan pada tempatnya. Rasa


aman dan hidayah yang mutlak adalah rasa aman didunia dan akhirat dan hidayah


kejalan yang lurus.



Kezhaliman yang mutlak lagi sempurna


menghanguskan rasa aman dan petunjuk yang mutlak lagi sempurna, dan tidak


tertutup kemungkinan sekedar kezhaliman menghalangi sebagian rasa aman dan


dasar petunjuk. Renungkanlah. Yang mutlak untuk yang mutlak, yang berupa satuan


untuk satuan.” (Demikian ucapan Ibnu Qayyim secara ringkas).


 


Dari Ubadah bin


ash-Shamit beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,


“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah


semata, tiada sekutu bagiNya, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah,


bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah, kalimatNya yang Dia sampaikan kepada


Maryam dan ruh dariNya, surga adalah haq dan neraka adalah haq, niscaya allah


memasukannya kedalam surga sesuai amal yang dia lakukan.” (HR. Bukhari no.3435


dan Muslim no.28)



(Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada


tuhan yang berhak disembah selain Allah)


Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam Fatul Majid


menjelaskan,



Yakni, barangsiapa yang mengucapkannya dengan


didasari dengan mengetahui maknanya dan mengamalkan tuntutannya, lahir dan


batin. Maka Syahadatain memerlukan ilmu, keyakinan dan amal terhadap


tuntutannya, sebagaimana Firman Allah ta’ala, “Maka ketahuilah bahwa


sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.” (Muhammad: 19)


dan firmanNya, “Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah)


orang yang mengakui (syahadat) yang haq dan mereka mengetahui (maknanya).”


(Az-Zukhruf: 86).



Adapun sekedar mengucapkannya tanpa mengetahui


maknanya, tanpa keyakinan dan mengamalkan tuntutannya, berupa berlepas diri


dari syirik, mengikhlaskan perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan,


perbuatan hati dan anggota badan, maka tidak berguna.”



Dalam Qurrah al-Uyun al-Muwahhidin dijelaskan,


“Kalimat yang agung ini mengandung peniadaan dan


penetapan. Ia menafikan Ilahiyah dari selain Allah dengan ucapan “Tiada tuhan


yang berhak disembah.” Ia menetapkan Ilahiyah hanya bagi Allah semata dengan


ucapan, “kecuali Allah.” Allah ta’ala berfirman, “Allah menyatakan


bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan


keadilan, para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang


demikian itu), tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, yang


Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ali Imran: 18).


Berapa banyak orang yang tersesat karena tidak


mengerti maknanya dan mereka adalah mayoritas. Mereka membalik hakikat makna,


maka mereka menetapkan ilahiyah yang dinafikan kepada sesuatu yang tidak berhak


memilikinya dari para makhluk, para penghuni kubur dan altar persembahan,


thaghut-thaghut, pohon-pohon, jin dan lain-lain. Mereka menjadikan hal itu


sebagai agama. Mereka meniru dan menghiasinya, mereka mnenganggap tauhid


sebagai bid’ah, mereka mengingkari orang-orang yang menyeru kepada tauhid. Mereka


tidak mengetahui hakikatt dari syahadat itu sebagaimana yang diketahui oleh


orang-orang jahiliyahdari kalangan orang-orang kafir Quraisy dan lainnya.


Mereka ini mengetahui maknanya, tapi mengingkari keikhlasan yang merupakan


makna kandungannya, sebagaimana Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya mereka


dahulu apabla dikatakan kepada mereka, ‘La ilaha illallah (Tiada tuhan yang


berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata,


‘apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair


gila?” (Ash-Shaffat: 35-36).


Orang-orang musyrik dari kalangan akhir umat


ini mengingkari apa yang diingkari oleh orang-orang musyrik dahuklu yang


menolak siapa yang menyeru mereka agar meninggalkan apa yang mereka sembah


selain Allah, dalam bentuk kuburan, altar persembahan, thaghut dan lain-lain.


Hanya saja orang-orang musyrik jahiliyah dulu mengetahui makna ini maka mereka


mengingkarinya, sementara orang-orang musyrik zaman ini tidak menetahuinya,


maka mereka juga mengingkarinya. Oaleh karena itu andan melihatnya orang yang


mengucapkan La ilaha illalah sementara dia tetap beribadah kepada selain Allah


bersama Allah.” Selesai.


Imam Ibnu Baz mengomentari,


“Penyebabnya adalah bahwa orang-orang Arab


jahiliyah adalah ahli bahasa al-Qur’an yang fasih, sehingga mereka mengetahui


makna kalimat Tauhid yang ditetapkan oleh al-Qur’an. Adapun orang-orang


sekarang dimana mereka terjerumus kedalam syirik ibadah, maka mereka bukanlah


orang-orang yang menguasai bahasa al-Qur’an dengan baik, mereka hanya beragama


dengan berpijak kepada terminologi-terminologi dimana sebagian dari mereka


mengambil dari sebagian yang lain, dari orang-orang ahli kalam dan orang-orang


awam. Jika orang sekaliber al-Fakhrurrazi, salah seorang tokoh besar ilmu kalam


dan pakar ilmu ushul dari kalangan mereka, keliru dalam memahami makna al-ilah


dalam tafsir firman Allah, “Mereka berkata, ‘Wahai Musa, jadikanlah untuk


kami tuhan seperti mereka mempunyai tuhan-tuhan.” (Al-A’raf: 138), maka


bagaimana dengan ulama-ulama mereka dibawahnya? Tidak perlu meninggung orang


awam dan orang jahil dari mereka. Apakah masih terasa aneh jika mereka tidak


mengetahui bahwa siapa yang berdoa kepada orang mati atau orang hidup dalam


perkara yang hanya boleh diminta kepada Allah semata, atau thawaf dikuburannya,


atau bernadzar kepadanya, berarti telah menyembahnya dan mengangkat sebagai


tuhan?”


Al-Qurthubi dalam al Mufhim ala Shahih


Muslim, berkata (Sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat tidaklah cukup,


akan tetapi harus didukung dengan keyakinan hati.) Bab ini merupakan bukti


rusaknya pandangan golongan Murji’ah ekstrem yang berkata bahwa sekedar


mengucapkan syahdatain sudah cukup dalam iman. Dan hadits-hadits dalam bab ini


menetapkan kerusakannya, bahkan kerusakan mahzab ini sudah dimaklumi dalam


syariat bagi siapa yang mengetahuinya, karena madzhab ini berarti membolehkan


kemunafikan dan menghukumi bahwa iman orang munafik adalah shahih. Dan ini


batil tanpa ragu.” Demikian al-Qurthubi.


Dalam hadits ini terdapat petunjuk kepada hal


ini, yaitu ucapannya, (Barangsiapa bersaksi). Kesaksian tidak sah


kecuali jika berpijak kepada ilmu, keyakinan, keikhlasan dan kebenaran.


An-Nawawi berkata, “Ini adalah hadits yang


agung dan memiliki kedudukan yang mulia. Ini adalah hadits yang paling luas


maknanya (termasuk hadits yang simpel tetapi bermakna luas) yang mengandung


masalah-masalah akidah. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam mengumpulkan


didalamnya apa yang dikeluarkan dari aliran-aliran kekufuran dengan berbagai


macam akidah dan perbedaanya yang berjauhan, maka beliau menetapkan batasan


dengan kalimat-kalimat dalam hadits ini apa yang menjelaskan seluruhnya.”


Demikian dalam ucapan beliau rahimahullah.


Al-Hafizh menyebutkan, ini adalah sebagaimana


dengan firman Allah,



“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa;


tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha


Penyayang.”


(Al-Baqarah:163)  


“Dan Kami tidak mengutus Rasul pun sebelum


kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak


disembah melainkan Aku, maka sembahlah Aku’.”


(Al-Anbiya’:25) 


“Dan Kami telah mengutus kaum ‘Ad saudara


mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada


tuhan yang berhak disembah bagimu selainNya.”


(Al-A’raf: 65)


Maka 


mereka menjawabnya –sebagaimana bantahan atasnya- dengan ucapan mereka, “Apakah


kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan


apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?” (Al-A’raf: 70) 


Dan Allah ta’ala berfirman, “(Kuasa Allah)


yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan


sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil, dan


sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Hajj: 62).



Hal ini mengandung peniadaan terhadap ilahiyah


(predikat sebagai yang disembah) dari selain Allah, yaitu ibadah, dan


penetapannya hanya bagi Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Al-Qur’an dari


awal hingga akhir menjelaskan dan menetapkan haikat ini, serta membimbing


kepadanya.


Ibadah dengan berbagai macamnya hanya berasal


dari penghambaan hati dalam bentuk kecintaan, ketundukan, dan kerendahan, dalam


keadaan takut dan  berharap, dan semua


ini hanya Allah semata yang berhak atasnya, sebagaimana yang telah dijelaskan.


Barangsiapa memberikan sebagian dari itu kepada selain Allah dan dengan


demikian perkataan dan perbuatannya menjadi tidak berguna baginya.


Perkataan Ulama Tentang Makna “La ilaha


illallah”


Al-Wazir Abu al-Muzhaffar berkata dalam al-Ifshah,


Orang yang bersaksi dengannya mengetahui bahwa


tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah sebagaimana Allah Ta’ala


berfirman, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak


disembah selain Allah.” (Muhammad: 19)


Beliau berkata, “Faidahnya globalnya adalah


hendaknya anda mengetahui bahwa kalimat ini mengandung kewajiban kafir kepada


thaghut dan beriman kepada Allah. Ketika anda menafikan ilahiyah (dari selain


Allah) dan menetapkannya hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, maka anda


termasuk orang yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah.”


Ibnul Qayyim rahimahullah (dalam al-Bada’i


al-Fawa’id 3/56) membantah pendapat yang berkata bahwa al-Mustatsna (yang


dikecualikan) dikeluarkan dari al-Mutsatsna minhu (yang dikecualikan baginya).


Beliau berkata, “Bahkan ia dikeluarkan dari al-Mutsatsna minhu dan


hukumnya sekaligus, sehingga ia tidak termasuk kedalam al-Mutsatsna, karena


jika demikian maka seseorang tidak masuk islam dengan mengatakan La ilaha


illallah, karena dia tidak menetapkan ilahiyah bagi Allah ta’ala. Kalimat ini


adalah kalimat yang agung yang –dari sisi peletakannya dalam bahasa- mengandung


penafian terhadap ilahiyah dari selain Allah dan penetapannya bagiNya secara


khusus. Petunjuknya terhadap penetapan ilahiyah lebih agung daripada petunjuk


ucapan kita, ‘Allah dalah Tuhan’ dan tidak ada yang meragukan ini sedikitpun”


Demikian ibnul Qayyim secara ringkas.


Abu Abdullah al-Qurthubi berkata dalam


tafsirnya, “La ilaha illallah, yakni tidak ada sesembahan yang berhak disembah


kecuali Allah.”


Az-Zamakhsyari berkata, al-ilaahu


(tuhan) termasuk isim jism (kata jenis) seperti kata “Laki-laki” dan kata


“Kuda”. Kata ini diberikan kepada setiap yang disembah, benar atau bathil,  kemudian penggunannya yang dominan adalah


untuk yang disembah dengan benar.”


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “tuhan”


adalah yang disembah dan ditaati, karena al-ilaahu adalah yang


dituhankan dan yang berhak disembah. Dia berhak untuk disembah karena Dia


mempunyai sifat-sifat yang menuntutnya menjadi yang dicintai dengan kecintaan


paling tinggi dan ditaati dengan ketaatan yang mendalam.”


Kemuidan beliau berkata, “al-ilaahu” adalah


yang dicintai lagi disembah, yang dipertuhankan oleh hati dengan mencintainya,


mematuhinya, merendahkan, takut, dan berharap kepadanya, kembali kepadanya


dalam kesulitan, berdoa kepadanya dalam perkara-perkara yang penting,


bertawakal kepadanya untuk meraih kebaian-kebaikan, berlindung kepadanya,


merasa tentram dengan menyebutnya, merasa tenang dengan mencintainya; semua ini


hanya untuk Allah semata. Oeleh karen aitu, La ilaha illallah adalah perkataan


yang benar, para pengikut dan penganutnya adalah pengikut Allah dan


golonganNya. Sedangkan orang-orang yang mengingkarinya adalah musuh-musuh


Allah, dan orang-orang yang berhak mendapatkan azab dan murkaNya. Jika kalimat


ini benar, maka benarlah semua masalah, keadaan, dan perasaan. Jika seorang


hamba tidak meluruskannya maka kerusakan pasti terjadi pada ilmu dan amal


perbuatannya.”


Ibnul Qayyim berkata, “al-ilaahu (tuhan)


adalah yang dituhankan oeh hati dengan kecintaan, pengagungan, ketergantungan,


pemuliaan, penghormatan, kerendaha, kepatuhan, ketakutan, harapan dan tawakal.”


Ibnu Rajab berkata, “al-ilaahu (tuhan) adalah


yang ditaati sehingga dia tidak didurhakai karena rasa penghormatan,


pengagungan, kecintaan, ketakutan, harapan, tawakal, permintaan, dan doa


kepadanya. Semua ini hanya patut diberikan kepada Allah ‘Azza wa jalla. Siapa


yang menyekutukan seorang makhluk dengan Allah dalam salah satu perkara-perkara


ini yang merupakan keistimewaan ilahiyah, maka hal iitu merupakan penodaan


terhadap keikhlasannya dalam mengucapkan La ilaha illallah, dan sikap itu


mengandung penghambaan kepada makhluk sebagaimana kadar apa yang ada padanya


dari hal itu.”


Al-Baqa’i berkata, “La ilaha illallah, yakni penafian


besar adanya tuhan yang haq selain Allah yang Maharaja lagi Mahaagung. ilmu ini


termasuk dzikir teragung yang pasti menyelamatkan dari ketakutan-ketakutan hari


kiamat, ia menjadi sebuah ilmu manakala ia berguna, ia menjadi berguna manakala


diiringi dengan ketundukan dan pelaksanaan terhadap konsekuensinya, jika tidak


maka ia adalah kejahilan murni.”


Pensyarah didalam Fathul Majid berkata, “Ini


banyak tercantum didalam perkataan para ulama dan merupakan ijma’ dari mereka.”


Maka La ilaha illallah menunjukkan peniadaan


terhadap ilahiyah dari selain Allah, apapun ia, dan penetapannya hanya untuk


Allah semata bukan selainNya. Inilah tauhid yang diserukan para Rasul dan


al-Qur’an menunjukkannya dari awal hingga akhir, sebagaimana firman Allah


ta’ala tentang jin, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadamu


bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan al-Qur’an, lalu mereka berkata,


‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan, (yang)


memberi petunjuk jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya dan kami


sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Rabb kami’.”


(Al-Jin: 1-2)



La ilaha illallah tidak berguna kecuali bagi


orang yang mengetahui kandungannya dari sisi apa yang dinafikan dan apa yang


ditetapkan, meyakini hal itu dan mengamalkannya. Adapun orang yang


mengucapkannya tanpa ilmu, tanpa keyakinan dan tanpa amal perbuatan, maka telah


hadir ucapan para ulama bahwa ini adalah kejahilan murni, ia merupakan hujjah


atasnya tanpa ragu.


 


Dari Anas


radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah


Ta’ala berfirman, ‘Wahai Bani Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan


memikul dosa sepenuh bumi kemudian kamu bertemu denganKu dengan tidak


menyekutukanKu dengan sesuatu, niscaya Aku membalasmu dengan ampunan sepenuh


bumi’.” (HR. At-Tirmidzi no. 3540 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani


dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)



Ini adalah syarat yang berat dalam janji untuk


meraih ampunan yaitu keselamatan dari syirik, yang banyak maupun sedikit, yang


kecil maupun yang besar, dan tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang


diselamatkan oleh Allah ta’ala, dan itulah hati yang selamat, sebagaimana


firman Allah ta’ala, “Pada hari dimana harta dan anak-anak tidak lagi berguna


kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”


(Asy-Syu’ara’: 88-89).


Ibnu Rajab berkata, “Barangsiapa datang (pada


hari kiamat, pent) dengan memikul dosa sepenuh jagat, tetapi dia mempunai


tauhid, maka Allah menyambutnya dengan ampunan yang juga sepenuh jagat…”


Sampai beliau berkata, “Jika tauhid seorang


hamba dan keikhlasannya kepada Allah ta’ala telah sempurna, dia menunaikan


syarat-syaratnya didalam hatinya, lisannya dan anggota badannya, atau dengan


hati dan lisannya pada saat menjelang kematian, maka hal itu mewajibkan ampunan


terhadap seluruh dosa yang telah berlalu dan menghalanginya secara total untuk


masuk neraka. Barangsiapa yang hatinya mewujudkan kalimat Tauhid, maka ia akan


mengeluarkan darinya dari segala sesuatu selain Allah: kecintaan, pengagungan,


penghormatan, keseganan, ketakutan, dan tawakal, pada saat ituseluruh dosa dari


kesalahan dihapuskan, walaupun seperti buih lautan.” Demikian secara ringkas.


Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata


tentang makna hadits diatas,


“(Dosa-dosa) dimaafkan (diampuni) untuk ahli


tauhid yang murni yang tidak menodainya dengan syirik apa yang tidak dimaafkan


untuk orang yang bukan demikian. Seandainya seorang yang bertauhid –yang tidak


menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun- niscaya Rabbnya dengan membawa


dosa-dosa sepenuh jagat raya, niscaya Rabbnya akan menyambutnya dengan ampunan


sepenuh jagat raya juga, hal ini tidak terwujud bagi orang yang membatalkan


tauhidnya. Tauhid yang murni yang tidak terkotori oleh syirik tidak menyisakan


dosa, karena ia mengandung kecintaan kepada Allah, penghormatan, pengagungan,


ketakutan, dan harapan kepadaNya semata yang mewajibkan dicucinya dosa-dosa


walaupun ia sepenuh jagat, najisnya bersifat insidentil sementara yang


menolaknya adalah sesuatu yang kuat.” Demikian Ibnul Qayyim


Dalam hadits ini juga terkandung keterangan


bahwa pahala tauhid itu adalah besar, kemurahan Allah, kedermawanan dan


rahmatNya adalah luas, dan hadits ini juga membantah golongan khawarij yang


mengkafirkan seorang muslim karena dosa-dosa serta (sebaliknya), hadits ini


juga membantah golongan Mu’tazilah yang menetapkan satu kedudukan diantara dua


kedudukan, yaitu kefasikan, mereka berkata, “Dia tidak mukmin tidak pula kafir,


dia kekal didalam neraka.” Yang benar adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah,


bahwa nama iman tidak ditanggalkan darinya, tetapi tidak diberikan kepadanya


secara mutlak, akan tetapi dikatakan, mukmin pendurhaka atau mukmin dengan


imannya dan fasik dengan dosa besarnya. Inilah yang ditunjukkan oleh al-Qur’an,


As-Sunnah dan Ijma’ Salaf ummat ini.


[Disalin dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid


oleh Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu-Syaikh Bab Keutamaan Tauhid.


Pustaka Sahifa]



قالب وردپرس


close