AS Tuduh Rezim Assad Siapkan Serangan Senjata Kimia…


Judul : AS Tuduh Rezim Assad Siapkan Serangan Senjata Kimia…
link : AS Tuduh Rezim Assad Siapkan Serangan Senjata Kimia…


AS Tuduh Rezim Assad Siapkan Serangan Senjata Kimia…


WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuduh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad menyiapkan serangan senjata kimia lagi. Gedung Putih memperingatkan bahwa Presiden Assad dan militernya akan membayar mahal untuk rencananya itu.


Gedung Putih mengklaim, peran militer AS di Suriah untuk melenyapkan kelompok Islamic State atau ISIS.


”AS telah mengidentifikasi persiapan potensial untuk serangan senjata kimia lain oleh rezim Assad yang kemungkinan akan mengakibatkan pembunuhan massal warga sipil, termasuk anak-anak yang tidak bersalah,” kata juru bicara Gedung Putih Sean Spicer dalam sebuah pernyataan Senin malam.


”Kegiatannya sama dengan persiapan yang dibuat rezim (Suriah) sebelum serangan senjata kimia pada 4 April 2017,” lanjut Spicer, seperti dikutip Reuters, Selasa (27/6/2017).


”Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, AS berada di Suriah untuk melenyapkan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Namun, jika Assad melakukan serangan pembunuhan massal dengan menggunakan senjata kimia, dia dan tentaranya akan membayar mahal,” tegas Spicer.


Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley ikut mengomentari tuduhan Gedung Putih terhadap rezim Suriah. ”Setiap serangan lebih lanjut yang dilakukan kepada rakyat Suriah (bukan hanya) akan disalahkan pada Assad, tetapi juga terhadap Rusia dan Iran yang mendukungnya untuk membunuh rakyatnya sendiri,” tulis Haley di Twitter.


Pada bulan April 2017, Presiden Trump memerintahkan sebuah serangan rudal jelajah Tomahawk terhadap pangkalan udara Shayrat, Suriah. Serangan yang menghancurkan sejumlah jet tempur militer Assad dan menimbulkan sejumlah korban jiwa itu diklaim sebagai hukuman untuk rezim Assad atas serangan senjata kimia di Idlib pada awal April.


Namun, pemerintah Suriah membantahnya dan AS tidak menunjukkan bukti atas tuduhan tersebut. Serangan rudal Tomahawk AS saat itu membuat suara parlemen AS terpecah, di mana sebagian menolak langkah Presiden Trump.


(mas)



قالب وردپرس


close